Waktu dan Delusi

Ramadhian Ekaputra
2 min readSep 3, 2020
Menemukan sunyi dalam ramai
Photo by Lerone Pieters on Unsplash

“Pernahkah kamu dalam keramaian merenung, seketika waktu berhenti dan muncul suara bising yang semakin keras dari dalam kepala?”

Memasuki dimensi waktu, cuplikan-cuplikan masa lalu muncul di kepala dan berputar sangat cepat. Ada suka, ada duka, ada kecewa, ada bahagia.

“Sekarang tarik nafasmu dan waktu kan berjalan kembali”

~

Memasuki kamar dan langsung berbaring dikasur, kusetel Summer Salt — Palm Tree on Avenue G. Seolah melayang didalam lagu dan kumasuki dunia khayalanku.

Wow, kuberjalan lalu membangun, mencipta, dan merasakan asa.

Sungguh indah.

Hei bangun itu hanya delusi, bukan kenyataan.

Ku kedipkan mata dan mulai menulis apa yang telah kugapai dan apa yang akan kugapai.

Oh yah, itulah yang telah ku perbuat dan melekat pada diri sebagai jati diriku. Rasa penyesalan muncul.

“Apakah yang telah kuperbuat merupakan suatu manfaat dan membahagiakan orang disekitarku?”

Seketika aku membeku dan segera mencari apa arti dari waktu. Insting kealbayananku muncul dan segera mencari jawaban terdekat.

“…Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali masa (waktu)….”. (QS Al-Jatsiyah [45]: 24)

Photo by Ravi Roshan on Unsplash

Waktu mematikan?

Pertanyaan pertama dalam benak ku

Seberapa mematikannya waktu bisa dilihat dari orang-orang dewasa, sudah seperti apa dia dan lihat apa yang dia lakukan di waktu muda.

Burden on society or Becoming

Menurut urbandictionary.com burden on society adalah:

“An individual whose life has no direction; typically unemployed “chav” who spends benefit monies on cars, cigarettes, fast food and the like. Refers to a distinct subculture of the human race; individuals who are Burdens on Society are often seen as wasters and drifters in life.”

Keras!

“Jangan sampai jadi burden on society karena mengabaikan waktu.” benakku.

Plato dalam bukunya The Timaeus mendefinisikan tentang waktu:

[the Demiurge] began to think of making a moving image of eternity: at the same time as he brought order to the universe, he would make an eternal image, moving according to number, of eternity remaining in unity. This, of course, is what we call “time.”

Beberapa poin yang ku tangkap adalah:

  • Time as a moving image of eternity
  • Time as a number

Seberapa abadikah waktu?

Cara tergampang mencari tahu keabadian waktu adalah melihat apa yang telah diperbuat membekas sampai sekarang dan menjadikan aku apa.

Waktu bersifat abadi karena dia akan berjalan terus. Menjadi cuplikan gambar bagaikan deret angka. Waktu tak akan pernah berhenti. Dia akan terus mengejarmu dimanapun kau berada

Mungkin inti pada tulisan ini adalah

Jangan terjebak delusi, waktu akan membunuhmu!

Cepat atau lambat~

--

--